Rabu, 10 Oktober 2012

Keteladanan Rasulullah saw. Periode Mekkah


BAB VI. Keteladanan Rasulullah Periode Mekkah

  1. Kehidupan Masyarakat Jahiliyah di Mekkah

Muhammad di lahirkan di kota Mekkah, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau pada tanggal 20 April tahun 571 Masehi. Muhammad adalah keturunan Bani Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah Bin Abdul Mutalib, sedangakn ibunya bernama Siti Aminah binti Wahab. Nabi Muhammad dilahirkan tanpa ayah disisinya, dan juga dilahirkan di tengah-tengah masyarakat Jahiliyah. Pada zaman itu manusia tidak menggunakan akal pikirannya untuk melakukan sesuatu. Wanita dianggap sebagai makhluk yang tak berharga, bahkan setiap bayi perempuan yang di lahirkan harus di bunuh. Mereka menganggap bahwa berhala adalah Tuhan mereka. Diantara nama-nama berhala yang mereka sembah antara lain Hubal, Latta, Uzza, dan Munat. Hubal adalah berhala yang terbesar, sedangkan Latta adalah berhala yang tertua. Disamping menyembah berhala, masyrakat jahiliyah juga menyembah malaikat dan binatang seperti yang dilakukan kaum Sabi’in.

  1. Muhammad Menerima Wahyu

Muhammad yang kehidupannya dikelilingi oleh berbagai kesesatan jiwanya menjadi tidak tenang. Muhammad juga sering mendengarkan percakapan orang-orang tentang berhala. Melihat kejadian tersebut, Muhammad kemudian terpatri tekad yang kuat untuk mencari kebebasan Hakiki. Ia pergi menjauh dari kota dan mengasingkan diri dari keramaian. Ia pergi ke sebuah puncak di Gunung Hira’, yang bernama Gua Hira’.
Hari demi hari, keinginannya untuk mencari kebenaran semakin kuat. Setelah bertahun-tahun mencari kebenaran, akhirnya Muhammad mendapat petunjuk (wahyu) pertamanya di dalam mimpi.
Tercantum dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5 :

1. اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
2. خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
3. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
4. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
5. عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَ

Artinya : 1. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan
  1. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah
  2. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia
  3. Yang mengajaar manusia dengan pena
  4. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam Surat Al – Mudassir ayat 1-7 :

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7

Artinya :
Wahai yang berselimut. Bangkitlah dan berilah peringatan, Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan dosa mu, tinggalkanlah. Dan janganlah memberi untuk memperoleh yang banyak. Dan hanya kepada Tuhanmu saja, maka bersabarlah.``

Dalam Surat Ad-Duha ayat 1-11 :

1                      وَالضُّحَى

                        Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

2                      وَاللَّيْلِإِذَا سَجَى

                        dan demi malam apabila telah sunyi,

3                      مَاوَدَّعَكَرَبُّكَوَمَا قَلَى

                        Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu,

4                      وَلَلْآخِرَةُخَيْرٌلَّكَ مِنَالْأُولَى

                        dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.

5                      وَلَسَوْفَيُعْطِيكَرَبُّكَفَتَرْضَى

                        Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

6                      أَلَمْيَجِدْكَيَتِيمًافَآوَى

                        Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.

7                      وَوَجَدَكَضَالًّافَهَدَى

                        Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

8                      وَوَجَدَكَعَائِلًافَأَغْنَى

                        Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

9                      فَأَمَّاالْيَتِيمَفَلَاتَقْهَرْ

                        Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

10                    وَأَمَّاالسَّائِلَفَلَاتَنْهَرْ

                        Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.


11                    وَأَمَّابِنِعْمَةِرَبِّكَفَحَدِّثْ

                        Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).



2. Ajaran Rasulullah saw. Periode Mekkah

            Ajaran Rasulullah periode Mekkah yang harus didakwahkan oleh Rasulullah saw. Diawal kenabiannya adalah :
    1. Ajaran mengenai KeEsaan Allah swt.
    2. Ajaran Mengenai hari kiamat sebagai hari pembalasan
    3. Ajaran mengenai kesucian Jiwa
    4. Ajaran Mengenai persaudaraan dan Persatuan.

3. Profil dakwah Rasulullah saw. Pada periode Mekkah

  1. berdakwah dengan sikap lemah lembut
(QS. An-Nahl : 125) :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)

artinya: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

  1. Berdakwah kepada keluarga dan karib kerabat terdekat
(QS. Asy-Syu’ara: 214) :

وَأَنذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ، وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ {الشعراء : 214-215}

Artinya : "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman."

  1. Berdakwah dengan sikap perilaku jujur dan amanah

  1. Berdakwah dengan sikap sabar dan tawakal

  1. Berdakwah dengan sikap tasamuh (toleran)
(QS. Al-Kafirun : 1-5) :

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿٦

Artinya : 1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir
 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku


  1. Startegi dakwah Rasulullah Periode Mekkah

  1. Disampaikan secara sembunyi-sembunyi
Dalam kisah permulaan dakwah Rasulullah s.a.w., baginda memulainya dengan berdakwah secara sembunyi iaitu dakwah kepada orang-orang terdekat dengan baginda. Bemula dengan keluarga baginda, kemudian sahabat, dan seterusnya orang-orang baik yang dikenalinya. Mereka mengetahui bahawa Rasululullah s.a.w. adalah seorang yang baik, jujur, dan amanah. Oleh yang demikian, seruan dan ajakan baginda mendapat sambutan positif daripada mereka. Merekalah merupakan golongan yang terawal memeluk Islam yang tertulis dalam sejarah Islam dikenali sebagai As Saabiqun al Awwalun (generasi pertama memeluk agama Islam). Orang pertama yang masuk Islam adalah istri Nabi Muhammad saw. Yaitu Khadijah Binti Khaulid.

  1. Disampaikan secara terang-terangan
Rasulullah saw. Menyampaikan dakwah secara terang-terangan setelah mendapat wahyu dari Allah swt. Agar melaksanakan dakwah kepada manusia secara terbuka.

(QS. Al-Hijr : 94) :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.








  1. Reaksi Kafir Quraisy Terhadap Tersebaranya Islam

Selain mendapat reaksi keras dari Abu Lahab, dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Mendapat reaksi cukup keras pula dari para pemuka dan tokoh Quraisy lainnya seperti Abu Jahal, dan Umar Bin Khattab. Hal ini membuat Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy terkemuka lainnya yang mendustakan kenabian Muhammad merasa bahwa Ajaran Muhammad merupakan bahaya besar. Mereka Pun berencana menyerangnya. Mereka terus berdebat tentang kerasulan Muhammad. Akhirnya wahyu yang datang kepada Muhammad menjawab debat mereka.

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون

Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".



  1. Meneladani Dakwah Nabi Muhammad saw. Dan para sahabat di Mekkah

1.      Disampaikan dengan penuh kehati-hatian, sabar, dan menggunakan bahasa yang halus dan lemah lembut serta dengan bahasa yang mudah dipahami.
2.      Rasulullah saw. Memposisikan para pengikutnya sebagai sahabat. Hal ini tercermin dalam sebutan para pengikutnya yakni dengan sebutan “sahabat”. Cara seperti ini menimbulkan rasa simpati yang luar biasa karena di dalam islam benar-benar diterapkan kesetaraan.
3.      Rasulullah saw. Selalu bersama para sahabat-sahabatnya, baik dalam keadaan suka maupun duka.
4.      Rasulullah dan para sahabat sangat tabah dan teguh dalam berdakwah, meskipun menghadapi cercaan dan siksaan yang luar biasa dari kaum kafir Quraisy.
5.      Dalam Mendukung dakwah Rasulullah, para sahabat mengorbankan tenaga, harta, jiwa dan raga dengan sepenuh hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar